Pendidikan Pancasila
Sebagai blog pembelajaran PPKn di SMA
 
 
 
 

Pengunjung

248463
 

Kenapa PKI Membunuh Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono?

Untuk mengenang peristiwa kelam pemberontakan PKI pada 30 September 1965, maka di Jakarta dibangun Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya. Di Daerah Istimewa Yogyakarta juga dibangun monumen Pahlawan Pancasila Kentungan, lokasinya merupakan tempat pembunuhan terhadap Brigjen Anumerta Katamso, dan Kolonel anumerta Sugiono. Kenapa dua perwira militer di Yogya itu ikut dibunuh PKI?

 

barang peninggalan brigjen katamso & kolonel sugiono

 

Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono merupakan 2 diantara 9 orang yang bergelar pahlawan Revolusi. Katamso lahir di  Sragen, Jawa Tengah, 5 Februari 1923, Katamso memulai karir militernya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, yakni pendidikan para militer bentukan Jepang. Kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan ia bergabung dengan TKR dan diangkat sebagai Komandan Kompi di Klaten. Katamso bersama pasukannya seringkali terlibat pertempuran dengan tentara Belanda pada saat Agresi Militer Belanda Berlangsung.

Katamso pernah ikut terlibat dalam Operasi Merdeka Timur di bawah pimpinan Letkol Soeharto. Operasi militer tersebut digelar untuk menumpas gerakan pemberontakan batalyon 426 yang menyatakan bergabung dengan DI/TII di bawah pimpinan S.M. Kartosuwiryo.

Demikian juga pada waktu terjadinya pemberontakan PRRI/Permesta, Katamso diangkat menjadi Komandan Batalyon A Komando Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani. Selanjutnya, Katamso diserahi tugas sebagai Kepala Staf Resimen Tim Pertempuran (RTP) II Diponegoro di Bukit Tinggi. Tugas utamanya ketika itu melakukan pembersihan, penumpasan, dan menjaga keamanan wilayah dari gerombolan pengacau keamanan.

Dari Bukit Tinggi ia kembali dipindahtugaskan sebagai Kepala Staf Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus dengan tugas yang sama. Setelah Sumatera kembali aman, ia ditarik ke Jakarta dan menjabat sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infantri (Pusdikif) di Bandung.

Tahun 1963, Katamso diangkat menjadi Komandan Resort Militer (Korem) 072, Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta. Katamso juga aktif dalam membina dan memberikan latihan militer kepada Resimen Mahasiswa (Menwa) untuk mengantisipasi ancaman PKI yang saat itu sedang berupaya untuk melakukan perebutan kekuasaan. Karena sikapnya itu, Katamso dimusuhi oleh PKI.

Sebagai komandan teritorial, Katamso berusaha mendekatkan diri dengan rakyat, memperhatikan kesejahteraan pendidikan bahkan membangun gedung baru untuk sekolah. Pada tingkat mahasiswa Katamso sempat melatih kemiliteran dengan harapan sewaktu – waktu mahasiswa diperlukan sudah mampu memimpin sebuah kompi.Semua rencana Katamso terhalang dengan meletusnya G30S/PKI. RRI Jakarta yang sudah dikuasi PKI mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi. Para pejabat teras Angkatan Darat di Jakarta mereka diculik dan mereka terbunuh.Pada saat masyarakat diliputi keraguan, PKI telah menyiapkan rencana untuk memperebutkan kekuasaannya di Yogyakarta. Sasaran pertamanya adalah Kolonel Katamso.

Tanggal 1 Oktober 1965, Setelah Kolonel Katamso kembali dari Magelang, kepadanya disodorkan persyaratan mendukung Dewan Revolusi. Dengan tegas Kolonel menolaknya. Ketika mengadakan rapat dengan para staf di rumahnya, katamso sangat terkejut mengetahui para stafnya banyak yang dipengaruhi PKI. Di bawah todongan senjata, ia dibawa ke Desa Kentungan. Malam tanggal 2 oktober 1965 ia dibunuh. Mayatnya dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan di daerah Kentungan, sebelah utara Yogyakarta.

 

Peristiwa pembunuhan

Peristiwa pembunuhan tragis yang terjadi di Yogyakarta tersebut diawali dengan datagnya seorang yang bernama Wiryomartono pimpinan Biro Khusus PKI (Partai Komunis Indonesia) Yogyakarta menemui Mayor Infantri Mulyono salah seorang perwira TNI di lingkungan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta tanggal 29 September 1965, serta meneruskan isu Dewan Jenderal yang akan melakukan kodeta, dan keputusan Politbiro CC PKI untuk melakukan gerakan melumpuhkan pimpinan TNI AD. Untuk itu di Daerah Istimewa Yogyakarta perlu dilakukan gerakan mendukung gerakan di Jakarta tersebut, juga minta kesediaan Mayor Infantri Mulyono nanti mengambil alih pimpinan Korem 072/Pamungkas, dan Mayor Infantri Mulyono menyatakan kesediaannya.Wiryomartono juga menemui Mayor Infantri Wisnuraji, Komandan Batalyon “L” Kentungan, minta kepadanya agar membantu Mayor Infantri Mulyono bila gerakan dimulai.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi setelah mendengar pengumuman dari Gerakan 30 September melalui RRI Jakarta, Dan Rem 072/Pamungkas, Kolonel Infantri Katamso segera mengumpulkan stafnya dan memberi pengarahan tentang situasi. Ia tidak percaya kepada apa yang dikatakan oleh Gerakan 30 September dan komandonya agar tetap loyal kepada Presiden Sukarno. Kolonel Infantri Katamso juga melarang pers dan radio menyiarkan informasi-informasi yang bersumber dari gerakan tersebut.

Perkembangan selanjutnya Wiryomartono mendesak Mayor Infantri Mulyono untuk segera membentuk dewan revolusi di DIY dan mengangkat dirinya sebagai Ketua. Untuk melakukan itu Mayor Infantri Mulyono harus segera menyingkirkan Dan Rem 072/Pamungkas Kolonel Infantri Katamso.
Pada tanggal 1 Oktober 965 sekitar pukul 18.00 Mayor Infantri Wisnuraji memerintahkan anak buahnya Peltu Sumardi untuk menculik Kolonel Infantri Katamso dari kediamannya, dan juga mengambil Kepala Stafnya Letkol Infantri Sugiono dari Markas Korem 072/Pamungkas. Kedua orang tersebut dibawa ke Kentungan. Pada tanggal 2 Oktober 1965 sekitar pukul 02.00 dinihari, kedua perwira tersebut dibawa ke sebuah lubang yang sudah disiapkan di mana para pembunuh sudah siap menunggu.
Peristiwanya digambarkan sebagai berikut:

Jam 24.00 Peltu Sumardi membangunkan Pelda Kamil, Perwira Penyelidik Batalyon “L” dan memerintahkan untuk melakukan pembunuhan atas Kolonel Katamso dan Letkol Sugiono. “Apa persoalannya beliau-beliau ini harus dibunuh”, tanya Kamil. “Jam ini, atas perintah Komandan Batalyon harus dikerjakan. Perintah beliau pembunuhan juga jangan sampai dilakukan dengan bersuara”, kata Sumardi.

Pelda Kamil hanya bertugas sebagai pengawas, yang bertugas sebagai algojo adalah Serda Alip Toyo, dan Ru Morter 8 Kompi bantuan Batalyon “L”. “Pukul mereka dengan kunci Morter 8 dan tunggu di tempat kurang lebih 15 m dari lubang. Kalau kolonel Katamso dan Letkol Sugiono sudah turun dari mobil pukul dari belakang dengan alat itu”, kata Sumardi.

Tak lama datang mobil Gas dari arah utara, setelah berhenti Letkol Sugiono turun. Ia masih berpakaian seragam, mendadak ia dipukul dari belakang dengan kunci Morter 8 oleh Alip Toyo, ia jatuh tersungkur. Tubuhnya kemudian dimasukkan dalam lubang yang telah disediakan.

Mobil Gas datang untuk kedua kalinya membawa Kolonel Katamso, ia turun dan berjalan ke arah barat. Tapi pukulan kunci Morter 8 menimpa bagian kepalanya. Kolonel Katamso jatuh tersungkur. Melihat ia masih hidup, Pelda Kamil memerintahkan, “Pukul kembali sampai mati”. Serda Alip Toyo memukul lagi sampai Katamso gugur. Melihat Letkol Sugiono yang dalam lubang masih hidup, Alip melemparkan batu-batu besar ke dalam lubang tersebut, hingga dengkuran Letkol Sugiono berhenti.

Jenazah mereka baru ditemukan sekitar 20 hari kemudian dalam keadaan rusak. Setelah di semayamkan di Korem 072/Pamungkas, maka pada tanggal 22 Oktober 1965 jenazah kedua Pahlawan Pancasila tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegra Yogyakarta. Katamso oleh Pemerintah RI dianugerahi gelar pahlawan revolusi berdasarkan SK Presiden RI No.118/KOTI/1965.

Untuk mengenang pahlawan revolusi di Yogyakarta ini maka dibangunlah monument pahlawan Museum Monumen Pahlawan Pancasila terletak di kopleks Batalyon 403 Kentungan Sleman (dahulu Batalyon L) di tepi sebelah selatan.  Di tempat ini pulalah, Brigjen Katamso dan Kolonel sugiono dibunuh.


Ditulis oleh: Ramli Nawawi (www.pusakaindonesia.org)

Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]
 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

  • Prota PPKn Kelas X SMA Kurikulum 2013
    Perangkat Pembelajaran Kelas X KTSP - 10-08-2014 23:20:54  (21)
  • RPP PPKn Kls. X tentang HAM Tahun 2014/2015
    Perangkat Pembelajaran Kelas X KTSP - 11-02-2016 01:59:26  (18)
  • RPP Bab 4: Mengupas Penyelenggaraan Kekuasaan Negara
    Perangkat Pembelajaran Kelas XI - 30-09-2015 12:59:59  (13)
  • Promes PPKn Kls. X Smt. 1 Tahun 2014/2015
    Perangkat Pembelajaran Kelas X KTSP - 10-08-2014 23:38:22  (11)
  • Harapan Siswa Belajar PPKn dengan Kurikulum 2013
    Artikel - 17-07-2014 09:55:34  (10)
 
 
 

PPKn

  • Tinggalkan Pesan Kamu di Sini!
    BEGIN CBOX - www.cbox.ws - v001 -->
    END CBOX -->
 

MP3 Player


  • SCM Music Player http://scmplayer.net --> SCM Music Player script end -->
 

Gadget

 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 makinpintar.com